Benarkah Jogja Mulai Tidak Aman

Saya yakin judul postingan ini akan menghasilakan beragam jawaban di setiap kalangan masyarakat. “Jogja Berhati Nyaman”, masihkah?

Latar belakang tulisan ini adalah karena akhir akhir ini sedang booming masalah ‘klitih’ di Jogja. Bagi anda yang belum tahu klitih silahkan bertanya ke simbah google, saya yakin sudah banyak penjelasan di sana.

Sebenarnya masalah kriminalitas di jogja bukanlah hal baru di abad 21 ini. Baik yang dilakukan pelajar, mahasiswa maupun preman. Kenyataan ini saya simpulkan dari hasil pencarian saya yang saya dapat dari “bapak-bapak blogger” yang sudah lama hidup di jogja. Banyak kasus dan curhatan mengenai ketidakamanan jogja sebelum tahun 2014 ini. Baik itu klitih, tawuran, penjambretan, copet, santet dan lain sebagainya.


Saya sendiri sebagai salah satu warga tulen jogja angkatan 90’an sudah sedikit banyak tahu mengenai kasus kasus kriminalitas di jogja. Saya tidak berani mengatakan banyak tahu karena saya yakin diluar sana masih banyak lapisan lapisan kriminal, dan yang saya atau anda tahu mungkin hanya kulit luarnya saja. Namanya juga ‘dunia gelap’, melihat sampai ke akar akarnya saja sulit apalagi membasminya.

Sejak SD (tahun 2000.an) tak jarang saya mendengar obrolan mengenai ganasnya dunia gelap jogja. Dan di SMP tanpa sengaja saya belajar lebih mengenai geng geng.an di jogja, waktu saya SMP disanalah tempat saya mulai memasuki lapisan luar dunia gelap ini bersama teman teman yang lain. Saya bukan pelaku tapi saya hanya pengamat, waktu itu saya menyimpulkan bahwa Yogyakarta sebenarnya bukan kota berhati nyaman lagi (vandal, tawuran, klitih, perkelahian).

Status kota pelajar masihkah cocok disandang kita ini? Saya rasa iya. Karena memang masih begitu adanya, banyak pelajar dari luar jogja sangat bangga bisa sekolah/kuliah di jogja. Namun, justru itulah yang menjadi bumerang bagi predikat “Berhati Nyaman” di kota ini. Fungsi nyata sekolah bukan lagi hanya sebagai tempat belajar, namun juga sebagai markas markas besar geng geng di jogja. Setahu saya dulu hanya ada satu sekolah yang tidak memiliki geng, benar benar bersih, entah sekarang masih atau tidak.

Jika anda memiliki anak yang sedang bersekolah SMP/SMA di joga silahkan tanya apa nama geng di sekolah anak anda, silahkan gali sedalam dalamnya, siapa musuh bebuyutan sekolah anak anda, siapa kawan siapa lawan, siapa pentolan geng di sekolah anak anda, siapa yang pernah membawa minuman keras di sekolah, siapa yang membawa rokok, siapa saja yang ikut dalam geng. Saya Yakin anak anda tahu itu, paling tidak sedikit tahu. Tak ada sekolah yang aman dari kenakalan remaja. Sekolah yang mahal tidak menjamin, yang murah pun semakin. pesantren tidak menjamin, sekolah negri tidak menjamin, swasta pun juga.

Dari dulu, sekolah hanya tempat sekunder untuk menanamkan moral. Selebihnya ada di rumah, di lingkungan keluarga. Sekolah saat ini kebanyakan hanya tempat belajar materi. Belajar moral pun hanya formalitas guru untuk memenuhi jam ajar pendidikan agama. Jika ingin anak anda aman, bekali ilmu moral sejak dini, ilmu agama, dan ilmu kasih sayang. Insyaallah ia akan berfikir seribu kali untuk berbuat yang tidak tidak.

Tak adil rasanya jika hanya menyorot para pelajar yang dijadikan kambing hitam. Nyatanya terdapat bermacam macam geng selain geng sekolah. Ada geng partai, geng jalan, geng motor, geng wilayah, dan lain sebagainya.  

Lantas apa yang membuat topik ‘klitih’ saat ini begitu booming? Saya juga kurang yakin, berdasarkan beberapa sumber ada yang mengatakan bahwa sekarang sasaran klitih bukan hanya pelajar, tapi juga masyarakat umum. Fakta pada saat ini memang seperti itu, banyak orang ‘bersih’ tak tahu apa apa menjadi korban klitih yang membabi buta, tanpa tujuan yang jelas, tanpa motif yang jelas.

Mungkin ini yang membuat banyak orang khawatir, termasuk saya, karena saya juga bukan pelajar. Jadi bukan kekhawatiran para pelajar lagi, tapi juga menyangkut hajat hidup orang banyak. Ketika keamanan kita terancam tentu kita berontak keluar dari area tenang, mencoba melawan dan mencari perlindungan dari kekhawatiran.

INTINYA :
Jogja memang sudah tidak aman sejak dulu. Bagi saya gunung paling mistis dan paling dingin sekalipun masih lebih nyaman daripada Jogja. Jogja memang berhati nyaman, untuk sebagian orang.

PESAN SAYA :
-           Untuk pelajar yang masih polos : jauhi dunia gelap pelajar. Sekedar tak sengaja tahu tak masalah asal jangan ikut ikutan. 
-           Untuk pelajar yang sudah terlibat : saya tak punya pesan apa apa. Jika saya berpesan pasti hanya akan menjadi angin lalu. Kesadaran ada pada hati nurani masing masing. tak ada gunanya saya menyerukan jogja bukan GTA, dan sebagainya.
-          Semua pelajar : Hati hati di jalan. Siang terlebih malam, hindari berkeliaran sendiri di tempat sepi dan rawan. Perdalam ilmu agama, perdalam cinta damai, mendaki gununglah sekali sekali, hati hati dalam bergaul.
-          Untuk para orang tua : Tugas guru sudah berat untuk memberi pelajaran sekolah, jangan bebankan ilmu moral pada mereka. Jadilah teman yang baik untuk anak anda.
-          Untuk para ibu : Sayangilah anak anda, tularkan rasa kasih sayang.
-          Untuk para ayah : Jadilah ayah yang benar benar ayah, tegas jangan selalu galak, jangan andalkan uang untuk mengatur/memanjakan anak anda.
-          Untuk masyarakat luas : Laporkan segera jika mengetahui kejadian kasus kriminal, bantu para aparat menangkap para keparat.
-          Cari info tempat tempat yang rawan klitih di google. (saya males copas dari blog sebelah)
-          Cari info cara cara meminimalisir terkena klitih di google. (saya males copas dari blog sebelah)
-          Cari info cara cara melindungi diri dari kejahatan (dalam islam jika anda muslim) di google. (saya males copas dari blog sebelah)
-          Mintalah perlindungan pada Allah SWT dengan sungguh sungguh, ikhtiar dan pasrahkan.
-          Tenangkan hati,tak perlu over-khawatir.

Jika ada masukan lain silahkan beritahu saya. Saya sadar saya juga banyak kekurangan dalam memberi informasi, ini hanya dari pandangan saya, orang yang sedikit tahu J

Akhir kata,

#piss


pict : http://dgi-indonesia.com/

Post a Comment

0 Comments