Ibarat Kapal, Bukan Soal Ombak, Tapi Nahkodanya

Beberapa waktu yang lalu saya tidak sengaja menemukan lagi akun akun di buku muka yang menghujat Islam. Saya tahu akun tersebut salah dan dapat :

1. Melukai hati pemeluk Islam, atau
2. Melukai ditambah Menyulut kelakuan yang tidak terpuji.

Karena pilihannya hanyalah dua, bagi saya opsi nomor 1 sudah cukup bagi kita. Lebih baik kita dihujat tapi pada kenyataannya kita bertolak belakang dengan apa yang dihujatkan kepada kita, daripada kita dihujat tapi kita balas menghujat dan menunjukkan sifat buas kita.

Wahai saudaraku, Islam hakikatnya adalah agama yang sangat menjunjung tinggi perdamaian. Demikian dengan agama agama lain yang juga menjunjung perdamaian kita dapat hidup berdampingan sama seperti yang telah dicontohkan sejarah ribuan tahun lamanya. Damai adalah kebutuhan nurani setiap manusia. Sedangkan perang dan kebencian adalah kebutuhan nafsu pada diri diri manusia. Nafsu menumpahkan darah, nafsu mencaci maki, nafsu pada kekuasaan, dan lain sebagainya.

Dan pada kenyataanya opsi nomor 2 lah yang paling banyak dipilih. Saya amat sangat tersentuh dengan pemikiran Islam pada diri orang Islam yang justru melenceng dari ajaran yang telah dicontohkan Rasulullah SAW.

“Turut berbela sungkawa, atas tak berartinya bunga, terganti umpat benci, caci maki, bunuh, dan lukai”

Itulah sepenggal lirik lagu yang berjudul ORANG ORANG DI KERUMUNAN favorit saya. Kurang lebih dapat menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi pada masyarakat ini. Saya heran dengan orang orang seperti mereka yang lebih mendahulukan emosi daripada melafalkan dan memaknai istighfar.

Saya masih dapat mengingat cerita yang dibacakan uztad saya waktu saya masih ikut TPA saat SD. Begini ceritanya, saya copykan saja dari alamat http://blogdanupunya.blogspot.com/2013/05/kisah-nabi-muhammad-yang-menjenguk-orang-yang-menyakitinya.html karena saya malas bercerita panjang lebar. Hehe.

Suatu hari, Nabi Muhammad SAW akan pergi ke masjid. Seperti biasanya, beliau pun selalu melewati jalan itu karena konon memang hanya itu jalan satu-satunya. Setiap melewati jalan itu, Nabi Muhammad SAW dihina, dicaci, diludahi, bahkan dilempari kotoran oleh seseorang. Nabi Muhammad SAW berusaha bersabar dan bersabar.

Malaikat Jibril menawarkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk membalas kelakuan orang itu. Namun, Nabi Muhammad SAW berkata, “Tak usah ya, Jibril. Sahabat itu belum mengenal Islam. Biarkanlah dia dengan perilakunya.” Dan terjadilah penghinaan itu terus-menerus.

Namun, hari itu sungguhlah teramat berbeda. Nabi Muhammad SAW tidak bertemu dengan orang yang biasa menghinanya. Tak terlihat orang itu duduk dan menunggu Nabi Muhammad SAW yang biasa lewat jalan itu. Tentu saja kondisi itu justru mengherankan Nabi Muhammad SAW. Maka, beliau pun berusaha mencari tahu tentang nasib orang tersebut.

Maka, diketahuilah bahwa orang itu sedang sakit keras. orang itu tidak bisa bangun dari tidurnya. Sehari-hari sorang itu hanya meringkuk di tempat tidur.

Begitu mendengar kabar itu, Nabi Muhammad SAW pun segera bergegas pergi. Beliau pergi untuk menengok orang yang sedang sakit itu. Sama sekali beliau tidak menghiraukan pengalamannya yang dihina, dicemooh, dicaci, bahkan disakiti. Nabi Muhammad hanya berkeinginan untuk segera bertemu dengan orang itu dan ingin mengetahui kondisi yang sebenarnya.

Setiba di depan pintu rumah orang itu, Nabi Muhammad SAW segera mengetuk pintu. Hanya suara lemah yang terdengar. Suara lemah yang menggambarkan bahwa orang yang membalas salam tersebut dalam keadaan sakit keras. Langsung saja pintu rumah dibukanya. Dan tiba-tiba Nabi Muhammad SAW terbelalak ketika melihat kondisi orang itu yang terkulai lemah di ranjangnya.

Ketika mengetahui orang yang menengoknya adalah Nabi Muhammad SAW, orang itu pucat pasi. Keringat dingin mengucur deras sebagai pertanda rasa ketakutan yang teramat sangat. orang itu ketakutan karena disangkanya Nabi Muhammad SAW akan membalas dendam. Semakin Nabi Muhammad SAW mendekati dirinya, orang itu semakin pucat pasi.

Ketika sudah berada di sampingnya, tak disangka Nabi Muhammad SAW meletakkan tangan lembutnya di dahi. Lalu, tangan Nabi Muhammad SAW mengusap-usap tangan orang itu. Dengan suara lembut, Nabi Muhammad SAW bertanya tentang penyakit dan perasaan yang dirasakannya.

Mendengar bahasa halus Nabi Muhammad SAW, orang itu gemetar, perasaannya berkecamuk. orang itu tak pernah menyangka bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki watak yang sedemikian mulia. Sama sekali Nabi Muhammad SAW tidak menampakkan rasa dendamnya. Justru Nabi Muhammad SAW memerlihatkan kepribadiannya yang penyayang dan penyantun. Sungguh perilaku Nabi Muhammad SAW itu mengetuk hati orang itu. Tiba-tiba, orang itu mencium tangan Nabi Muhammad SAW. Dengan suara gemetar, orang itu berusaha berkata-kata.

“Wahai Muhammad. Ketika engkau akan beribadah, saya selalu mengganggumu. Saya selalu menyakitimu. Saya selalu berusaha agar kamu tidak dapat beribadah dengan segala caraku. Namun, semua usahaku ternyata gagal. Hari ini, saya sedang sakit. Tak seorang pun teman-temanku menengokku. Justru kamu adalah orang yang pertama menengokku. Sungguh hatimu teramat mulia. Maka, persaksikanlah wahai Muhammad, bahwa saya masuk Islam.”

Lantas yang menjadi pertanyaan besar adalah : BAGAIMANA? Apakah watak Rasulullah SAW selaras dengan watak kita saat : kita dihina dan kita balas menghina? Atau saat agama lain beragama dan kita tidak menghormati? Atau saat kita saling baku hantam karena tak seiman? Tentu itu semua berbeda dengan apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW.


Dalam Islam, perang/kekerasan adalah opsi terakhir. Selama tidak ada yang diambil dari kita dan selama nyawa kita tidak diujung tanduk, tidak usah kita pura-pura kebakaran jenggot. Lindungi dulu moral dan iman kita sebelum kita "pura pura" melindungi agama kita. Asah dulu kesabaran kita sebelum mengasah senjata kita.

...
Pernahkah gak denger teriakan Allahu Akbar
Pake peci tapi kelakuan barbar
Ngerusakin bar orang ditampar-tampar
...


-Slank, Gosip Jalanan




pict : http://higherlife.ca/blog/finding-peace-part-1/

Post a Comment

0 Comments