Seorang cewek duduk di sudut ruangan sambil memegang
gitarnya. Posisinya seperti memetik gitar namun tak satupun jarinya menari.
Mulutnya terus diam, namun dalam hatinya penuh percakapan batin. 5 menit lagi
ia harus naik keatas panggung membawakan sebuah lagu. Sebenarnya ia bukan tokoh
dari acara pesnsi di sekolah ini. Hanya saja karena salah satu peserta pensi
berhalangan hadir ia diminta menggantikannya.
Mungkin saat ini ia belum siap untuk tampil. Cewek itu
belum tahu ingin memainkan lagu apa. Apakah lagu percintaan? Apakah lagu galau?
Apakah lagu top hits band band ternama? Arghh. . si cewek berambut sebahu itu
pun makin bingung.
Salahnya sendiri yang malas mempersiapkan lagu di hari
kemarin, dan juga salah koordinator seksi Acara yang mendadak mencari
pengganti. Barangkali orang-orang berekspektasi tinggi pada lagu yang akan
dibawakannya. Atau mungkin tidak ada yang peduli atas apapun lagu yang akan ia
bawakan. Si cewek dengan kaos putih masih saja terdiam bingung di sudut ruangan
dekat vas bunga.
“Mari kita beri tepuk tangan yang meriah untuk penampilan
selanjutnya, akustik dari Anninda kelas XII IPS 2” kata sang pembawa acara
dilanjutkan tepuk tangan para peserta perpisahan. Cewek itu berjalan menaiki
panggung dengan langkah ringan. Dengan sedikit gugup ia duduk diatas kursi
ditengah tengah panggung dengan wajah setengah tertunduk. Diaturlah posisi
gitarnya senyaman mungkin, tak lupa sebuah mikrofon didepannya lebih ia
dekatkan. Masih ia coba mengatur nafasnya karena gugup.
Mulutnya masih menutup. Ingin ia menyapa hadirin namun
mulutnya tertahan. Cewek itu menegakkan duduknya dan memberanikan diri melihat
ratusan peserta yang hadir. Kali ini ia lebih terlihat seperti mengeksplorasi,
dari kanan ke kiri, depan ke belakang, semua tak luput dari matanya. Melihat
didepannya adalah teman teman seperjuangan. Tak terasa sudah 3 tahun ia bersama
mereka. Dan lagu yang akan ia bawakan, mungkin adalah persembahan terakhir yang
dapat ia beri.
Anninda memejamkan mata dan menarik nafasnya dengan kuat.
Dipegang gitarnya dengan mantap. Petikan pertamanya sekedar untuk cek sound,
membawanya menutup mata. Lalu jarinya bermain dan mulutnya bernyanyi.
”Indonesia tanah air beta… Pusaka abadi nan jaya….”
Anninda masih bernyanyi dengan mata terpejam. Ia memilih lagu yang sudah lama
ingin ia bawakan di depan banyak orang. Terutama di depan anak anak muda. Di
depan anak anak muda yang sudah jarang menyanyikan bahkan mendengar lagu
nasional selain waktu upacara.
Suasana begitu sunyi hanya suara gitar dan suara cewek
itu bernyanyi merdu. Mungkin para hadirin tidak suka dengan pilihan lagunya.
Tapi terserahlah yang penting satu kepuasan jiwa yang sangat besar telah ia
dapatkan pikirnya. Tepuk tangan yang biasanya riuh saat bait pertama lagu dinyanyikan
ternyata tak terdengar. Ia tak menggubris, jiwanya telah terlalu menyatu dengan
nyawa dalam lagu. Dengan mata masih terpejam, kini yang ada dibenaknya hanya
sang saka merah putih berkibar dengan latar alam indonesia yang begitu indah.
”Disana tempat lahir beta … ” terdengar satu penonton
ikut bernyanyi kali ini dua penonton, mereka adalah dua orang guru yang ikut
bernyanyi sambil berdiri dengan mata terpejam. Lalu tiga, empat, dan tak
tebendung lagi seberapa banyak orang orang mulai berdiri sambil memejamkan
matanya, ikut mengalir dalam khusyuk lagu. Hingga semua orang di dalam ruangan
berdiri.
"Tempat berlindung di hari tua… Sampai akhir menutup
mata…. “
Petikan terakhir membuat cewek itu membuka mata kembali. Penampilannya
diakhiri tepuk tangan yang sangat meriah. Ia tersenyum dan menyeka air mata
yang membasahi pipinya. Ia tersenyum karena melihat harapan itu masih ada,
bahwa nasionalisme masih bisa ditumbuhkan. Beberapa teman masih berdiri dan
menyeka air mata. Ia tidak sendiri, pikirnya. Mereka juga kangen lagu ini.

0 Comments