Religius Atheistik

Sepanjang usia kita mungkin kita diajari untuk menyekat dengan tegas antara religi dan atheis. Bahkan mungkin kita telah mengambil kesimpulan dengan sendirinya bahwa komunis tidak sama dengan atheis, atau komunis termasuk bagian dari religi. Atau justru kita tidak pernah mendengar pembahasan keduanya. Sehingga kita ikut mengalir saja bersama pemikiran pemikiran dangkal yang terlebih dahulu ada.

Menurut saya atheis berada pada masalah spiritual. Sedangkan religi berada pada masalah sosial. Atheis memiliki hulu yang sama dengan komunis maupun kapitalis, yaitu materialisme. Namun atheis hidup dalam ruang yang berbeda dan mengalir kearah yang berbeda dengan komunis dan kapitalis.

Mencermati dari pola ke-religius-an orang orang sekarang, banyak orang yang menganut “religius atheistik”. Artinya jika diibaratkan suatu zat atau benda, religi adalah radiasi yang ia pancarkan namun unsurnya atheis. Misalnya, para pejabat yang menyiksa rakyat bawah yang kesulitan demi menikmati uang suap untuk memikirkan perut dan bawah perut. Contoh lain, semua koruptor jika ditanya pasti mengaku beragama, merekapun juga menjalankan ritual agamanya dengan baik (mungkin).

Memang yang mereka langgar adalah hukum negara. Hukum negara tidak sama dengan hukum tuhan. Hukum Tuhan tidak identik dengan hukum konstitusi. Tapi apa iya agama dan Tuhan mereka memperbolehkan yang seperti itu? Mereka tampil religi dalam bersosial, namun mereka bersikap seolah olah tidak ada tuhan.

Di tempat lain, belahan bumi lain, justru ada orang orang atheis yang religius. Mereka justru sangat menghormati hukum. Merasa perlu menjaga tertib sosial, toleran, menghargai orang lain, berbuat yang tidak merugikan sesama, dan terbuka dalam berfikir. Aliran atheis mereka bisa jadi karena logika yang sangat kuat, mereka tidak punya cukup bukti akan adanya tuhan. Bisa juga karena kejenuhan mereka terhadap agama yang tidak memperbaiki dunia, justru merusak. Juga terhadap para pengikut agama yang munafik.

Memang ada juga kaum religi yang benar benar beriman atas religinya dan baik pada sesama. Ada juga kaum atheis yang benar benar atheis dan tidak religius. Namun menurut pengamatan saya, jumlah kedua jenis tersebut lebih sedikit. Secara umum, penghayatan atheis kaum atheis lebih kental, ketimbang penghayatan religi kaum religi.  

Post a Comment

0 Comments