Dalam
perjalanan dan hidup, saya telah bertemu dengan bermacam macam jenis, sifat dan
karakter manusia. Banyak diantara mereka adalah orang orang besar dengan banyak
cerita historis, heroik, maupun memotivasi. Banyak juga diantara mereka hanyalah manusia dengan hidup yang biasa
biasa saja untuk diceritakan.
Ketika bertemu
dengan orang orang seperti itu, orang orang mungkin terlihat biasa biasa saja
dari berbagai sisi, saya bingung harus kemana. Saya pendiam, ditambah orang
tersebut tak punya “stempel diri” tentang apa yang ia senangi. Perbincangan terasa
canggung dan tak berbobot. Hidupnya tak penuh warna untuk bahan cerita. Mau
bicara gunung dia gak mudeng, mau bicara jalan jalan dia gak doyan, mau bicara
desain tapi gak yakin, mau bicara film dianya kalem, mau bicara komputer dia
juga . . ah sudahlah. Mungkin satu satunya yang bisa kita obrolkan cuma alamat
rumah. Hidupmu bung. . kayak celana SMA.
Ketika saya
bertemu dengan orang yang memiliki passion, saya bisa merasakan orang tersebut
memiliki beberapa rekam jejak yang menarik. perbincangan akan lebih
menyenangkan dan berwarna. Banyak hal baru akan kita peroleh. Apapun
passionnya, seseorang terlihat sedikit berbobot. Bahkan pendiam akut seperti
saya, tak peduli sama atau berbeda passion, akan cukup betah mengobrol dengan
mereka. Kadang obrolan akan terasa lama hingga kadang lupa diri.
Ketika bertemu dengan seorang pencinta alam.
Solo
atau ikut komunitas bro?
Udah
nanjak kemana aja?
Udang
ngecamp kemana aja?
Tempat
yang asik mana lagi ya bro?
Kalau
mau kesana enaknya naik apa?
Budget
habis berapa mas?
Kapan
nih pergi bareng?
Suka
outdoor udah sejak kapan?
Udah
ketemu setan apa aja di gunung?
Udah
ketemu hewan apa aja?
Monyet?
Lintah
bang?
Beruang?
Lumba
lumba bang?
Ketika bertemu dengan seorang pencinta
desain.
Kursus
atau otodidak bro?
Udah
dapet project apa aja?
Pernah
menang di 99?
Paling
suka pakai software apa?
Kalo
“bla bla bla” gimana ya caranya?
Udah
nyoba aliran apa aja?
Punya
gallery?
Karya
terbaikmu mana?
Ketika bertemu dengan seorang yang biasa
biasa saja tanpa hobby, K3 (Kuliah, Kantin, Kos)
Nama
siapa bro?
Kuliah
dimana?
Fakultas?
.
.
.
.
.
.
.
Krik
krik krik
Yah..,
begitulah. Amat sia sia hidup yang sekali ini kalau kita Cuma menjadi pemeran
pasif. Padahal diluar sana banyak hal yang dapat kita lakukan agar menjadi
pemeran aktif dunia ini. Masih banyak buku yang bisa kita baca, masih banyak
tempat yang bisa kita kunjungi, masih banyak waktu yang bisa kita manfaatkan.
Pergilah, cari
hobby, passion atau komunitas. Lebih baik sedikit waktu tapi banyak yang
dikerjakan daripada banyak waktu tapi sedikit yang dikerjakan. Masak iya anak
cucu kita Cuma kita kasih cerita rumus matematika sama fisika.
Karna kita
mampu cerita. Maka carilah cerita. Itu yang membedakan kita dengan monyet.
SemangART bro
!!
0 Comments