Gadis Corel

Pulang dari kampus, setelah kuletakkan sepeda gunung kesayanganku yang berwarna merah darah berpadu putih metallic pemberian Ibu aku lekas menaruh tas berat yang menemaniku menuntut ilmu. Segera kulepas sepatuku lantas mencuci kaki lalu menuju kekamar lagi untuk bermain dengan teman terbaikku. Ia bernama Vivi, sebuah komputer rakitan dengan kualitas menengah keatas yang aku rakit sendiri dengan uang hasil menabungku. Meskipun hanya memakai processor i7 namun aku sudah cukup puas. Terlebih dilengkapi RAM 8 GB , VGA 1 GB dan hardisk 2 Terabyte sudah sangat memuaskan.

Aku sedang tak ingin bermain game dengan Vivi. Bukan karena bosan, melainkan ada hal lain yang lebih menggairahkan daripada game. Aku sedang ingin mengecek akun Facebookmu sekedar melihat lihat jikalau ada status atau foto baru yang kau upload.

Tak butuh waktu lama aku sudah berada di dunia maya. Mataku terbelalak melihat foto barumu. Kau yang sedang duduk sendiri di sebuah tempat yang tidak asing. Tak perlu lama aku mencermati aku sudah tahu itu adalah gambar dirimu yang sedang duduk sendirian di Monumen Sebelas Maret yang sedang memandang dan tersenyum kearahku. Aku kenal lantai itu. Aku kenal warnanya. Aku kenal patung di belakangmu, tidak salah lagi. Engkau memakai kaos putih dengan celana panjang hitam berpadu sepatu putih. Engkau memakai tas punggung coklat dan kacamatamu sedikit menyembunyikan kilau indah bola matamu. Engkau hanya diam saja sambil melihat kamera dan tersenyum.

Engkau disana dan aku disini, di depan layar 17 inch dalam ruang dengan ukuran 3 x 4. Dan, kita saling memandang. Kupikir cukup sudah kupandangi paras manismu. Segera aku download dan simpan fotomu dalam folder yang biasa kupakai menyimpan foto fotomu terdahulu. Namun kali ini tidak hanya ku simpan. Akan ku gambar menggunakan computer, memakai tekhnik vector. Segera kubuka Corel Draw X7 untuk menggambar.

Kumasukkan fotomu dalam corel dan ku zoom in zoom out berulang kali hanya untuk mempelajari lekuk sempurna wajahmu.  Pada akhirnya kugambar saja lekuk senyum yang kau tampakkan. Pelan namun pasti kuikuti setiap lekuk wajahmu. Mengkombinasikan bentuk dan warna sehingga tak akan merusak cantiknya. Mulut, hidung dan matamu kuulang berkali kali hanya untuk membuat duplikat gambar vector yang sama. Bedanya ini berbentuk vector (kartun).

***

Tiga jam sepuluh menit sudah kumanjakan mataku bersama Vivid dan jadilah vector wajahmu dengan hasil yang memuaskan. Kuganti background taman dengan warna kuning gradasi agar selaras dengan kulit cerahmu. Waktu sudah melampaui senja dan aku melupakan tugas kuliahku. Demi menggambar wajahmu disini. Alis setebal itu hanya dimiliki bidadari apalagi dengan kelopak mata yang terlihat berjodoh dengan tatapanmu yang ceria. Mungkin karya ini akan biasa biasa saja jika bukan kau yang menjadi objek. Jika pelanggan biasanya harus mengbayar seratus ribu per foto untuk di vector, akan kuberikan gambar wajah manismu dengan cuma cuma.

Lalu kubuka facebook untuk mengirimkan gambar ini kapada engkau. Sayang sekali kau sedang offline, tak apa. Segera kukirim gambar ini padamu lewat pesan. Selesai.

“Anda menggambar saya?”

What? Ya Tuhan, bagaimana bisa kau tiba tiba online membalas pesan gambarku. Sungguh kebetulan. Mataku sejenak terbelalak. Sebuah pesan dari orang yang selama ini kukagumi. Kamu, wanita itu kamu. Wanita yang membuatku tak berdaya melawan gerak jari di keyboard. Perasaan antara senang, gembira, kaget, grogi. Ah sudahlah, kita kan belum saling kenal. Kupikir tak apa kubalas pesan ini.

“Maaf saya hanya iseng.”

“Gambar ini bagus sekali, berapa harga yang anda tawarkan?” jawabnya.

“Umm. . Maaf tidak usah, dan maaf sudah mengambil foto anda tanpa izin”

“Tak masalah, sudah resiko orang yang upload di facebook jika fotonya diambil. Berapa lama anda mengerjakan ini?”

“Sekitar tiga jam”

“Jadi selama tiga jam lebih anda memperhatikan wajah saya untuk digambar ulang?”

Sial! Harus bagaimana kujawab? Harus bagaimana ku mengatakan bahwa selama ini aku mengagumi wajahnya? Kutenangkan diri sejenak merangkai kata.

“Iya, saya pikir wajah anda sangat cantik jadi saya buatlah gambar itu.”

“Ohh tak apa. Terimakasih yaa, mungkin nanti akan saya jadika PP” jawabnya sambil menambah emot senyum.

“Sama sama, bolehkah saya tahu alamat anda? Sepertinya kita sama sama tinggal di jogja”

“Saya tinggal di daerah Seturan mas, mas udah dulu ya saya ada urusan sebentar” dia lalu offline.

“Ohh. Baiklah, bolehkah saya minta nomor HP anda? Ini nomor HP saya 0857257691234”

Ahh sial, bodohnya aku baru berkenalan sudah meminta nomor HP. Ah tapi tak apa lah. Karena engkau pergi aku juga memutuskan untuk off dulu, bersih bersih badan dan makan.

***

Malam sudah larut. Tak kunjung kudapati balasan darimu. Hatiku mulai merindu. Kubuka profilmu, kau sudah mengganti PPmu dengan gambarku, namun belum kau balas pesan terakhirku. Apakah salah kuminta nomormu? Apakah kau marah padaku? Malam ini malam minggu. Aku berharap dapat mengobrol lebih banyak denganmu. Aku ingin mengenalmu lebih dekat. Aku menunggumu dan terus menunggu di depan komputer. Sampai kusingkirkan keyboard agar aku bisa menyilangkan tanganku diatas meja untuk meletakkan kepalaku. Kutunggu kau sampai bosan, sampai aku tertidur.



Bersambung . . .


Post a Comment

0 Comments