Sempurna Di Cakrawala


setengah matahari senja
mengawalku ke jauh sana
memacu asa putaran roda
mengantarku lagi ke kota menara

hembusan angin menutup senja
tak terasa malam pun tiba
kedamaian mulai terasa
kala aku mendekati kakinya

kubiarkan dinginnya terasa
berharap kehangatan nanti disana
kubiarkan pikirku mencerna
adakah kedamaian disana

mulai kulangkahkan kaki seirama
bersama gelap selepas senja
semakin tinggi dan semakin menyiksa
sekat penghalang sempurna suasana

ku tetap melangkah berharap ku lupa
semua masalah yang tak juga sirna
ku tetap berandai agar itu nyata
puncak dimana ada kedamaian jiwa

hembusan angin mulai tak terasa
diantara pohon pohon penuh romansa
segenap peluh menemani menggapai cita
disepanjang jalur para pencinta

kulihat mereka dengan mata kepala
orang orang berjalan dengan cinta
kudengar mereka dengan telinga
suara manis canda tawa

sejenak kuhentikan langkah di tepi sana
kala didepanku terhampar samudra
lampu lampu kota sebagai airnya
dan langit malam sang cakrawala

mulai kurasakan rasa rasa yang pernah ada
ketika kedamaian memenuhi rasa
ketika yang ada hanyalah cinta
damai dan cinta, kurasakan keduanya

kuucapkan lagi mantra syukur doa
terimakasih Tuhan Yang Maha Esa
terimakasih Yogyakarta
takkan kulupakan engkau Indonesia

peluh masih menemani dahaga
kurasa tujuan masih jauh disana
sang mata belum puas memanja
namun kaki tak mau sejenak lebih lama

kembali kulalui rimbun belantara
deru angin tak lagi kurasa
kubawa diriku menepis tanya
adakah kesejukan disana

para tanjakan sebagai saksinya
betapa aku merindukan puncaknya
akupun tak tau harus berbuat apa
selain melangkah dan mencoba

pucuk dicinta ulam pun tiba
aku disini untuk kali kelima
kicau burung memanggil memori lama 
saat saat dimana kawan bersama

aku hanya ingin diam, merasakannya
tak perlu catatan ataupun kamera
kepalaku merekamnya, indah suasana
aku menikmatinya laksana pencinta

kuletakkan beban di pundak dan kurasa lega
kubasuh peluh dan melepas dahaga
kudengar mereka nyanyikan lagu cinta
orang orang yang lebih dulu disana

aku naik keatas batu raksasa 
berdiri serta lebih membuka mata
dan kuhirup nafas sedalam dalamnya
hah, andaikan aku bisa disini slamanya

semakin lama dan semakin lama
angin yang tadinya berhembus mesra
kini mulai liar meronta
menandakan aku harus membuka mata

kuturun dan kudirikan tenda
tak lupa api juga harus menyala
mata telah kenyang merasa
perutpun mulai iri dan meminta

aku makan di luar tenda
bersama angin dan api yang tersisa
langit malam apakah kau ingin minta?
akan kubagikan denganmu dengan cuma cuma

kurebahkan diri dibawah bintangNya
dingin tak akan menusuk dada
karna hati ini telah temukan citanya
kusadari ini semua sempurna

namun semua itu tak lebih sempurna
karena sempurna di cakrawala
hanyalah hadirnya
hanyalah dia

dia yang tak ada dalam cerita
dan mungkin juga dalam dunia nyata
yang telah pergi membawa jiwanya
karena aku, yang tak PEKA







Post a Comment

1 Comments

  1. Keren bener ini puisinya, Dhek. Applause buat Fisal :) (h)

    ReplyDelete