Aku kemudian duduk di tepi tempat
tidur. Merasa ada yang salah.ya, ada yang salah. Aku sedikit menoleh ke kanan
dan melihat keatas. Jam dinding tepat menunjukkan pukul 7. Mustahil untuk
sampai di sekolah sebelum gerbang ditutup.
-^^^-
Sehari sebelumnya,
Ini hari pertama aku masuk kelas
lagi. Tepatnya, hari kedua aku ke sekolah lagi. Jam sudah menunjukkan pukul
6:55. aku menutup pintu rumah dan sedikit memeriksa kembali apakah ada yang
tertinggal. Kemudian aku melaju membawa motorku menuju sekolah.
Dua puluh lima menit setelah itu
aku telah berada di parkiran motor bagian selatan, setelah sebelumnya harus di
tilang oleh pak kesiswaan karena terlambat dan diberi tahu bahwa peraturan
baru, jam 7 gerbang selatan ditutup, siswa yan terlambat harus lewat gerbang
utara. Dan setengah jam setelah itu aku sudah berada di depan pintu Lab WAN,
tempat dimana kelasku berada. Sedikit berhenti ketika akan mengetuk pintu.
Nampaknya pelajaran telah dimulai. Aku pikir tiada pilihan lain selain
mengetuk, lalu aku mengetuk dan langsung membuka pintu. Kubuka sdikit untuk
pertama mengintip. Kulihat orang orang sebaya yang ku kenal, ternyata ini
kelasku, benar. Lalu ku buka pintu lebih lebar agar aku bisa masuk kedalamnya.
Kira kira lima meter dari pintu ada dua orang guru yang menungguku disana,
memberi senyum seolah menyambut. Aku melangkahkan kaki ke arah guru yang
tersenyum kepadaku. Diikuti masuknya tiga orang wanita yang kutemui saat
perjalanan dari parkiran menuju kelas.
“Fisal, kenapa terlambat?”. Tanya
guruku.
“Sebenarnya saya tidak terlambat,
bu. Saya terlambat gara gara nunggu mereka bertiga”. Jawabku bercanda. Dan
gurukupun tertawa, beserta teman teman yang lain. Aku dipersilahkan duduk,
mengkuti pelajaran. Jauh dari dugaanku, kupikir hari pertama lebih santai,
perkenalan atau sejenisnya menurutku. Ternyata sudah diberi tugas. Lima belas
menit atau dua puluh menit setelah aku masuk, ada satu orang lagi yang
terlambat, namanya Puput. Oh, responku sedikit wajar. Dia memang sudah sering
terlambat dahulu, sama sepertiku, dan beberapa orang lainnya.
Jam 11:45, pelajaran usai.
Aku melakukan kewajibanku,
setelah itu aku menuju salah satu tempat cetak digital di jalan gejayan. Karena
hari ini ada pesanan 100 pin dari Aceh, 100 gantunan kunci dari Manado, dan 48
pin dari kota ini sendiri, Jogja. Sekitar jam 12:30 gulungan kertas desain
sudah tercetak. Waktunya menuju workshop untuk menjadikannya pin dan gantungan
kunci.
Kira-kira jam 13:00 sampai jam
17:15 aku berada di workshop. Menyelesaikan pesanan. Lalu pulang.
Sekitar jam 6-an aku baru sampai
dan membuka lagi kunci rumah lalu masuk. Aku menanggalkan tasku, sepatu dan
ikat pinggang, haah rasanya beban banyak telah berkurang. Aku duduk di tepian
tempat tidur, istirahat sejenak. Lalu aku mandi dan sembahyang.
Waktu itu pukul 18:40, Pukul
19:00 aku harus pergi bekerja, lagi. Tapi aku juga ingin pergi ke dokter dan ke
tukang cukur dalam 20 menit tersebut. Akhirnya kuputuskan pergi ke dokter.
Jam 19:20 aku sampai di rumah
lagi. Langsung masuk dan mengambil tas berisi leptop untuk bekerja. Sebenarnya
perut terasa lapar, tapi aku sudah telambat 20 menit. Ah, kuputuskan untuk
menunda makanku setelah pulang.
Sekitar jam 21:30 aku pulang.
Sampai dirumah kuhidupkan leptopku, tak lupa menancapkan modem modem. HP juga
ku cas karena sudah mulai merah indikator batrenya. Sambil menunggu booting,
aku sembahyang. Setelah itu, situs pertama yang kubuka adalah, facebook.
“Na, aku pulang.” Aku memulai
chatting dengan seorang teman baik disana. Bla bla bla bla bla. Membicarakan
hal hal yang mungkin tidak penting, bercanda, bergurau, sekedar melupakan penat
setelah seharian tadi beraktivitas. sampai pukul 22:31, tubuh dan mataku
seperti tak mampu lagi bertahan lebih lama. Mungkin karena lelah, mungkin
karena kemarin aku hanya punya waktu tidur tiga
setengah jam. Bahkan untuk mengambil segelas air putih dan sendok untuk
minum obat dari dokter pun malas. *saya
tidak bisa meneguk obat langsung, harus diencerkan terlebih dahulu baru diminum.
Kurebahkan tubuh diatas matras, berharap lima menit lagi rasa kantuk hilang,
karena ada sesutu yang belum ku kerjakan. Bukan tidu diatas tempat tidur,
karena disana banyak barang barang ynag terletak tidak pada tempatnya, dan aku
malas membereskannya.
-alam mimpi-
Aku membuka mata perlahan, tepat
didepanku adalah jam dinding yang menunjukkan pukul 5:45. Ahh aku melewatkan
waktu subuh. Aku bergumam sendiri dalam hati, entah ini salahku atau salah
orang tuaku yang tidak pernah membangunkanku. Aku meminta maaf pada Tuhan
karena hari ini terlambat menyembah-Nya lalu dengan lelah tubuh yang sudah
hilang dimakan mimpi aku sembahyang.
Kucari dimana HPku, kutemukan
dibawah meja. Kubuka ada SMS darinya mengucapkan selamat pagi. “Selamat pagi,
f****ku, sayangku, cintaku, kasihku, sahabatku”. Aku tersenyum, dan tertawa,
dia pintar melakukannya. Aku bersyukur.
Tapi jam sudah menunjukkan pukul
enam, aku tak punya banyak waktu jika tak ingin terlambat. Setengah jam untuk
bersiap, setengah jam untuk di jalan. Lalu sebelum mandi ku balas SMSnya,
“Selamat pagi, aku berangkat dulu yaa” (maksudku berangkat mandi). Tersenyum,
lalu menuju dapur, mencari makan, ternyata ibuku belum membuatkan sarapan, aku
minum air putih. Udara masih dingin, air juga pasti masih dingin. Aku lalu
mengalirkan air ke bak kamar mandi yang sebenarnya sudah penuh airnya, berharap
air di bak digantikan air dari sumur yang lebih hangat. Inilah yang selalu
membuatku menunda nunda mandi, air dingin. Air khas Jl kaliurang km 12,5. Entah
bagaimana orang orang di kilometer yang lebih tinggi dari tempatku bisa mandi
sepagi ini atau bahkan lebih pagi, mereka hebat. Aku punya impian konyol dari
dulu, yaitu bilang ke mentri pendidikan bahwa harus sekolah jam 7 itu sangat
menyiksa bagi sebagian orang, yaitu orang yang tinggal di ketinggian, dan
rumahnya jauh dari sekolah. Ahh tapi aku sadar, biarpun aku menodongkan pistol
mainan di depan pak mentri pun, permintaan konyol ini tak akan pernah terkabul,
aku ingin sekolah dimulai jam 9:00. Atau bahkan sekolah sore sampai malam.
Dengan begitu anak anak akan lebih ikhlas menyiapkan hari, lebih tenang, tidak
ada buru buru, dan tidak ada jalanan yang macet karena pegawai dan siswa harus
berangkat pada jam yang sama, tidak ada kasus kecelakaan karena terburu buru,
tidak ada kasus siswa terkena maag karena tidak sempat sarapan. Sambil menunggu
air aku kembali ke kamar.
Di depan pintu kamar aku
berhenti. Mengamati kamarku. Sangat sangat berantakan. Mungkin seperti pesawat
pecah. Aku mengevaluasi kamarku sendiri. Kenapa bisa begini? Malam ahun baru
lalu aku camping di pantai. Seperti biasa, setelah camping di gunung maupun di
pantai, pasti badan sedikit atau bahkan capek sekali. Akhirnya barang bawaan
camping untuk sementara (niatnya untuk sementara) digeletakkan begitu saja
karena tubuh masih capek untuk merapikannya. Wajar saja di lantai kamarku ada
tenda, pasak, kampak, matras, frame, gelas, sepatu, carrier, dan masih banyak
lagi barang barang yang tidak pada tempatnya. Setelah ku evaluasi, ternyata
alasannya karena 9% aku masih malas, 22% aku lelah menjalani hari hari, 69%
karena tidak ada waktu luang yang efektif. Ya, itu, pergi atau malas atau
capek.
Cukup berpikirnya aku lalu menuju
kamar mandi untuk mandi. Entah aku yang kelamaan mandi, atau kelamaan berpikir,
atau karena airnya yang super dingin, pukul 06:40 aku baru selesai mandi. Kurang
20 menit, aku pasti terlambat, aku sudah mulai pesimis, ditambah belum sempat
sarapan. Tapi aku berusaha optimis, aku ingin berangkat. Jika ditanya kesiswaan
kenapa terlambat, tinggal ku jawab “saya kelas empat, pak, Cuma mau mengurus
sertifikat”.
Akhirnya aku bersiap, dandan yang
rapi, memasukkan leptop kedalam tas, mengeluarkan motor, dan lain sebagainya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, baru mau berangkat, hujan tiba. Aku tambah malas,
tapi aku harus berangkat pikirku. Aku bimbang harus memakai sepatu atau sandal.
Atau harus membawa sepatu atau tidak. Lalu aku melepas sepatu dan kumasukkan
kedalam plastik, aku memakai sandal gunung. Ah harus membawa plastik sebesar
ini berisi sepatu, sangat repot, pikirku. Aku menyiapkan jas hujan tapi, tiba
tiba hujan berubah menjadi gerimis kecil, sangat kecil. Permainan, pikirku.
Aku pusing, aku berangkat, entah
pukul berapa. Menuju selatan dari rumahku. Belok ke kiri setelah menemui jalan
aspal. Di jalan aspal tersebut kupikir ada yang kurang. Sial, ternyata aku lupa
memakai jaket, pantas rasanya sengat sejuk. Aku tetap lurus menuju timur.
Sampai pertigaan aku masuk lagi ke desaku lewat jalur timur, menuju rumah,
mengambil jaket. Aku masuk rumah, mengambil jaket dan sedikit ingin duduk. Aku
kemudian duduk di tepi tempat tidur. Merasa ada yang salah.ya, ada yang salah.
Aku sedikit menoleh ke kanan dan melihat keatas. Jam dinding tepat menunjukkan
pukul 7. Mustahil untuk sampai di sekolah sebelum gerbang ditutup.
Aku mengalami pertempuran hati,
jadi berangkat, atau tidak. Lima menit serasa lima jam, aku terus berfikir.
Seperti ada setan dan malaikat di kiri kananku, seperti adegan sinetron. Entah
setan atau malaikat yang menang, jam 7:05, aku memutuskan tidak berangkat.
Kuganti pakaianku lalu menuju ke
dapur, sudah ada sarapan, kuambil piring nasi sayur kerupuk, dan makan. Sempat
ibuku menanyakan kenapa tidak jadi berangkat, ku jawab “sudah telat”, beliau
hanya tertawa, benar benar tertawa, bukan menyindir bukan marah, tapi tertawa
karena lucu. Aku sudah 18 tahun, sudah tidak minta uang jajan, mungkin sudah
benar benar dilepas. Tidak seperti setahun sebelumnya, ketika aku malas
berangkat sekolah pasti dimarahi. Beliau sudah tahu aku harus melakukan apa,
jangan melakukan apa.
----
Judul tulisan ini adalah “Ada
yang Salah”. Karena aku menyadari memang ada yang salah dari semua ini, jika
tidak diatasi pasti aku akan terlambat setiap hari. Dan aku mengorbankan pagi
ini untuk tidak sekolah, untuk mengevaluasi, membereskan kamarku yang
berantakan, meletakkan barang barang sesuai pada tempatnya dan mengerjakan
tugas yang belum ku kejakan.
Entah siapa atau apa yang salah
sehingga yang bernama waktu selalu mengejar ngejarku, mungkin:
- Pekerjaanku yang banyak, atau
- Aku yang pemalas, atau
- Ibuku yang tidak pernah membuat sarapan pagi pagi, atau
- Air di rumahku yang dingin, atau
- Orang tua yang tidak pernah membangunkan, atau
- Hujan yang datang tanpa permisi, atau
- Waktu yang semakin cepat berlalu, atau
- Entahlah.
Sleman, 7 januari 2015

0 Comments