Antara Si-Cantik dan Si-Penikmat

"Beautiful Things Don’t Ask For Attention"


Kata kata diatas diucapkan oleh Sean Penn yang berperan sebagai Sean O’Connel dalam film The Secret Life of Walter Mitty. Film yang “gue banget”. Film yang wajib ditonton untuk anda yang butuh suatu pandangan baru tenteang kehidupan. Film yang menginspirasi, Sangat.

 Dan “Beautiful Things Don’t Ask For Attention” membuat saya berfikir. Berfikir dari sudut pandang saya sebagai “laki laki normal” dan “penikmat alam”. Sebelum membahas lebih jauh. Saya akan menunjukkan sedikit dialog dalam film ini.
  • Sean O’Connell: They call the snow leopard the ghost cat. Never lets itself be seen.
  • Walter Mitty: Ghost cat.
  • Sean O’Connell: Beautiful things don’t ask for attention.
  • Walter Mitty: When are you going to take it?
  • Sean O’Connell: Sometimes I don’t. If I like a moment, for me, personally, I don’t like to have the distraction of the camera. I just want to stay in it.
  • Walter Mitty: Stay in it?
  • Sean O’Connell: Yeah. Right there. Right here.
Jika anda sudah melihat film ini maka anda akan tahu dialog ini terjadi saat Walter Mitty akhirnya berhasil menemukan Sean O’Connel di puncak pegunungan setelah melewati perjalanan panjang untuk mencari Sean O’Connel. Disana Sean O’Connel menggunakan Lensa (super mahal) kameranya
 untuk mengamati spesies sejenis harimau yang berada di gunung seberang, harimau itu disebut “snow leopard” atau “ghost cat” karena harimau itu tak pernah menampakkan dirinya.

Walter Mitty terheran heran karena Sean O’Connel hanya mengamati dan tidak segera mengambil gambar. Lantas ia bertanya “When are you going to take it?”. Pertanyaan sederhana namun dijawab dengan sangat bijaksana (dengan cara dan kalimat yang bijaksana).

Sean tidak berniat mengambil gambar “kecantikan” itu. Ia menikmati. Ia masuk ke dalam moment dimana ia dan matanya mengagumi. Mungkin lebih dari sekedar mengagumi. Menikmati dalam diam, mengamati dalam tenang. Seperti seorang pemuja rahasia. Namun lebih dari itu.

Mungkin setulus “sebatas perasaan cinta” seorang lelaki muslim yang hanya bisa melihat sosok wanita sangat muslimah yang selalu tertutup. Berhijab dengan rapi. Wanita yang tak menawarkan namun memancarkan kecantikan. Kecantikan yang tak dipancarkan namun terpancar sangat luas. Hingga mungkin orang disekelilingnya tidak menyadari apa yang membuatnya menarik.

Mungkin juga seperti gunung. Gunung yang tak pernah terlihat indah dari kejauhan. Hanya warna biru segitiga tak sempurna. Namun, ia menyimpan “cantiknya” dalam dekat-nya. Hingga setiap orang berhasil berdiri di puncak tertingginya. Akan menjadi orang yang berbeda setiap turun. Hingga setiap pandaki akan terlihat “sifat aslinya” saat mencoba menakhlukannya. Itulah gunung. Sang kecantikan. Dan kami para pendaki. Sang penikmat.

Gunung hanya diam. Tak melambai maupun memanggil. Tak menarik bagi kebanyakan orang. Gunung tak ingin menjadi menarik. Karna ia tahu semakin ia menarik akan banyak manusia menaikinya. Dan diantara manusia manusia itu ada manusia baik ada juga yang tidak.

Kebakaran Gunung Lawu beberapa pecan terakhir bukan yang pertama di Lawu. Bukan yang pertama juga di Indonesia. Dan puntung rokok sebagai awal pembakar hutan juga bukan kasus yang pertama di Indonesia. Bahkan Bukan yang ke seratus! Tapi lebih.

Sampah yang mulai menumpuk di puncak gunung. Bukan hal baru. Dan bukan hal aneh. Hanya ada 1 makhluk nyata yang bisa disalahkan atas fenomena tersebut. Yaitu kita Manusia. Saiapa lagi yang mendaki gunung membawa tas tas berat berisi makanan dan bungkusnya. Yang bungkusnya kadang lupa atau memang sengaja tak dibawa turun. Tidak mungkin monyet. Monyet tak merokok. Monyet tak makan kacang pilus atau biscuit di gunung. Mereka makan dari alam. Bukan juga sapi, domba, maupun lintah. Tapi. . . (kita sudah tahu jawabannya)

Berkurangnya ekosistem bunga abadi (edelweiss) juga bukan hal baru di 2014 ini. Dan inilah yang saya pikirkan dari kalimat “Beautiful Things Don’t Ask For Attention”. Segala hal yang indah tidak meminta perhatian. Ia nyaman dalam kecantikannya. Mempersilahkan siapa saja memanjakan dengan matanya. Tapi tidak untuk dirusak!.

Para pendahulu menikmatinya. Kemudian bercerita kepada yang lain. Yang lain kemudian tertarik dan mencoba. Setelah mencoba ia kemudian bercerita kepada yang lainnya lagi. Hingga. Cerita pun tak cukup. Perlu gambar sebagai bukti akan adanya tanah para dewa diatas awan. Jutaan gambar pun berhasil memasuki internet. Dan dari jutaan gambar tersebut bertugas untuk menarik setiap mata yang melihatnya. Berulang terus menerus hingga membentuk algoritma pohon yang tak sampai akal manusia menghitungnya.

Saya tidak mengatakan hal diatas salah. Tapi saya akan mengatakan hal dibalik itu semua yang salah. Manusia tak semua sama. Mungkin inilah kenapa sekarang (dari dulu) gunung api di Indonesia bergantian aktif (sekarang Gn. Slamet). Mungkin para “Kecantikan” itu perlu membuat dirinya sedikit jelek terlebih dahulu agar kecantikan “dalam”nya tetap utuh. Biarkan kecantikan luarnya tertutup abu perenungan terlebih dahulu. Agar semut semut nakal berhenti menggerogotinya. Dan agar semut semut baik, beristirahat dalam renungan, agar semut semut baik berubah menjadi kupu kupu yang bijak. #eh





Post a Comment

1 Comments